Skip to Content
Loading...
Lensa Guru
Lensa Guru
Online
Halo 👋
Ada yang bisa dibantu?

Tenda Dibangun dengan Keringat, Dikuatkan oleh Cinta Orang Tua dan Alumni

Saya ingin menulis kisah ini bukan sebagai seorang guru yang sedang menceritakan kegiatan sekolah, melainkan sebagai seorang yang ingin menyampaikan terima kasih dari lubuk hati paling dalam kepada seluruh orang tua siswa SDN 16 Anggrek.

Ada perasaan yang sulit saya ungkapkan dengan kata-kata ketika melihat satu per satu orang tua siswa datang membantu. Mereka tidak datang karena diperintah. Mereka datang karena merasa bahwa kegiatan anak-anak mereka juga merupakan tanggung jawab yang harus diperjuangkan bersama.

Sebelum pembangunan tenda di Lapangan Desa Helumo, Kecamatan Anggrek, dimulai, sejumlah persiapan telah dilakukan oleh Pak Saprin, guru SDN 16 Anggrek, bersama Papa Yaya, salah seorang orang tua siswa. Mereka menyiapkan berbagai kebutuhan agar pembangunan tenda dapat berjalan lebih mudah.

Namun, ketika waktunya tiba untuk mendirikan tenda, cerita tentang kebersamaan itu benar-benar dimulai.

Saya melihat sendiri bagaimana bapak-bapak dan ibu-ibu dari orang tua siswa SDN 16 Anggrek, Desa Putiana, datang dengan semangat. Ada yang baru saja menyelesaikan pekerjaan, ada yang meninggalkan kesibukan di rumah, tetapi mereka tetap menyempatkan diri hadir.

Bapak-bapak bergerak mengangkat bambu, memasang tiang, mendirikan tenda, menyiapkan dapur hingga memastikan penerangan tersedia. Mereka bekerja seolah tidak mengenal kata lelah, meskipun saya tahu setiap orang memiliki pekerjaan dan urusan masing-masing yang harus mereka tinggalkan untuk sementara.

Bagi saya, tenda itu bukan sekadar tempat berteduh. Di dalamnya ada rasa aman bagi anak-anak. Ada tempat mereka beristirahat, bercanda, menyimpan perlengkapan dan mempersiapkan diri mengikuti setiap kegiatan Pramuka.

Sementara itu, ibu-ibu mengambil bagian dengan cara yang tidak kalah luar biasa. Mereka rela meninggalkan sejenak urusan rumah tangga untuk menyiapkan makanan dan minuman bagi anak-anak, guru pendamping serta orang tua yang ikut mendampingi.

Saya melihat bagaimana makanan yang dimasak dengan tangan mereka menjadi tenaga baru bagi anak-anak. Setiap suapan seperti membawa pesan sederhana: “Nak, teruslah semangat. Kami ada di belakangmu.”

Mungkin bagi sebagian orang, makanan itu hanyalah makanan. Tetapi bagi saya sebagai guru, ada kasih sayang yang tidak ternilai di balik setiap masakan yang disiapkan para ibu.

Sepanjang saya merasakan perjalanan kegiatan sekolah, setiap kali SDN 16 Anggrek mengikuti kegiatan, orang tua siswa selalu menunjukkan antusiasme yang luar biasa. Mereka tidak banyak bertanya apa yang akan mereka dapatkan. Mereka lebih sering bertanya, “Apa yang bisa kami bantu?”

Kalimat sederhana itu sering kali membuat hati saya bergetar.

Sebab saya tahu, mereka juga mempunyai pekerjaan, keluarga, kebutuhan dan kesibukan masing-masing. Namun ketika menyangkut anak-anak SDN 16 Anggrek, mereka seperti memiliki alasan untuk kembali meluangkan waktu.

Kegiatan Pramuka Tingkat Kwartir Ranting Kecamatan Anggrek di Lapangan Desa Helumo akhirnya selesai. Namun bagi saya, kisah pengorbanan orang tua belum benar-benar berakhir.

Setelah acara penutupan, mereka kembali bergotong royong membongkar tenda. Tidak ada wajah yang meminta dihargai. Tidak ada tangan yang menunggu dipuji.

Dalam waktu singkat, tenda yang sebelumnya berdiri kokoh kembali dibongkar. Bapak-bapak dan ibu-ibu memikul perlengkapan, memasukkannya ke dalam kendaraan, kemudian mengantarkannya ke SDN 16 Anggrek.

Sesampainya di sekolah, pekerjaan belum selesai. Mereka kembali menurunkan barang-barang dari kendaraan dan mengembalikannya ke tempat semula.

Saya berdiri menyaksikan semua itu dengan perasaan yang bercampur aduk.

Ada bahagia karena anak-anak kami memiliki orang tua yang luar biasa. Ada haru karena begitu banyak pengorbanan yang mungkin tidak pernah tercatat. Dan ada rasa sedih karena saya sadar, sering kali kerja keras seperti ini hanya terlihat sebentar, sementara perjuangan di baliknya begitu panjang.

Ada satu kelompok yang juga tidak boleh saya lupakan: para alumni SDN 16 Anggrek.

Mereka hadir bukan hanya ketika dibutuhkan. Mereka ikut melatih anak-anak mengenal pengetahuan kepramukaan, baris-berbaris dan berbagai keterampilan lainnya. Mereka juga membantu guru dalam melakukan pendampingan pada setiap kegiatan yang diikuti siswa.

Mereka datang membawa sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang: waktu, tenaga dan kepedulian.

Sebagai guru, saya mungkin bisa mengajarkan banyak hal kepada anak-anak di dalam kelas. Namun dari para orang tua dan alumni, saya belajar satu pelajaran yang jauh lebih besar: pendidikan tidak pernah menjadi pekerjaan guru seorang diri.

Pendidikan tumbuh ketika sekolah, guru, orang tua, alumni dan masyarakat berjalan dalam arah yang sama.

Karena itu, jika suatu hari anak-anak SDN 16 Anggrek mengingat pengalaman mereka mengikuti kegiatan Pramuka di Lapangan Desa Helumo, saya berharap mereka tidak hanya mengingat tenda, permainan, upacara atau kegiatan yang mereka ikuti.

Saya ingin mereka mengingat bahwa di balik kenyamanan mereka selama berada di perkemahan, ada tangan-tangan orang tua yang bekerja tanpa banyak bicara.

Ada ayah yang mengangkat bambu.

Ada ibu yang memasak dalam kesibukannya.

Ada orang tua yang meninggalkan pekerjaan untuk beberapa waktu.

Ada alumni yang datang melatih dan mendampingi.

Dan ada begitu banyak orang yang bekerja dalam diam agar anak-anak mereka dapat tersenyum.

Untuk seluruh orang tua siswa SDN 16 Anggrek, saya tidak tahu apakah kata “terima kasih” cukup untuk membalas semua yang telah Bapak dan Ibu lakukan.

Mungkin tidak.

Tetapi izinkan saya mengucapkannya dengan segenap hati:

Terima kasih karena telah mempercayakan anak-anak Bapak dan Ibu kepada kami. Terima kasih karena tidak hanya menitipkan mereka kepada sekolah, tetapi juga ikut berdiri bersama kami ketika sekolah membutuhkan tenaga dan kepedulian.

Jika dalam perjalanan ini ada lelah yang belum sempat saya lihat, ada pengorbanan yang belum sempat saya balas, dan ada kebaikan yang belum sempat saya ucapkan terima kasih, saya mohon maaf.

Bapak dan Ibu mungkin menganggap apa yang dilakukan hanyalah gotong royong biasa.

Tetapi bagi saya, itu adalah kenangan yang akan saya simpan lama.

Sebab suatu hari nanti, ketika anak-anak ini tumbuh dewasa dan mereka melihat kembali foto-foto masa Pramuka mereka, saya berharap mereka tahu satu hal:

Di balik setiap senyum mereka, pernah ada orang-orang yang rela lelah agar mereka bisa bahagia.

Dan orang-orang itu adalah orang tua mereka sendiri.

Berbagi

Postingan Terkait

Konfirmasi Penutupan

Apakah anda yakin ingin menutup pemutaran video ini?