- Diposting oleh : Ibnu Ishaq, C.VLD
- pada tanggal : Mei 11, 2026
GORUT - Ruang sederhana di rumah seorang guru di Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo, Kamis, 30 April 2026, menjadi saksi lahirnya website pendidikan digital bernama lensaguru.com yang resmi dirilis oleh S. Ishak, S.Pd.
Pria yang di kalangan wartawan akrab disapa Ibnu atau Abu Luthfi itu dikenal sebagai pengajar di SDN 16 Anggrek sekaligus wartawan media Bitungnews.id. Kehadirannya di dunia jurnalistik tumbuh perlahan melalui perjalanan panjang yang dimulai sejak masa remaja.
Jauh sebelum mengenal kamera profesional dan dunia media digital, Ishak hanyalah seorang pelajar SMP yang gemar mendengarkan siaran berita dari sebuah radio rongsokan milik keluarganya yang telah diperbaiki kembali oleh sang ayah.
Dari radio sederhana itulah ketertarikannya terhadap dunia informasi mulai tumbuh. Ia kemudian menyalin berita yang didengarnya ke buku tulis dan menyusunnya kembali seperti kliping sederhana di rumahnya.
Memasuki masa setelah lulus SMA, rasa penasarannya terhadap dunia teknologi semakin besar. Saat mulai mengabdi sebagai guru honorer, Ishak belajar secara autodidak di warnet mengenai blog dan susunan script sederhana yang dipelajarinya sedikit demi sedikit.
Keinginan memiliki kamera sendiri sebenarnya sudah muncul sejak lama. Namun kondisi ekonomi keluarga membuat impian itu hanya tersimpan dalam benaknya selama bertahun-tahun tanpa pernah benar-benar terwujud.
“Saya dulu hanya bisa melihat kamera milik orang lain. Punya kamera sendiri waktu itu rasanya seperti mimpi yang sangat jauh,” ungkap Ishak mengenang masa remajanya dengan mata berkaca-kaca.
Meski hidup dalam keterbatasan, Ishak tidak berhenti belajar. Ia mulai membuat blog gratis menggunakan platform Extgem, Blogspot, hingga Wordpress dengan memanfaatkan telepon genggam sederhana dan akses internet warnet.
Di balik semangat tersebut, kehidupan ekonomi keluarganya kala itu tidak selalu berjalan mudah. Saat menjadi guru honorer di salahsatu sekolah di daerah tempat tinggalnya, Ishak hanya menerima honor sekitar seratus ribu rupiah setiap bulan sambil tetap melanjutkan kuliah.
Situasi itu beberapa kali menghadirkan kecemasan dalam kehidupan rumah tangganya. Kebutuhan keluarga terus berjalan, sementara penghasilan sebagai tenaga honorer sangat terbatas untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Namun kondisi sulit tidak membuatnya menyerah. Dari blog pribadi yang dikelola secara sederhana, Ishak mulai memperoleh tambahan penghasilan melalui aktivitas ngeblog yang perlahan membantu kebutuhan keluarganya saat itu.
“Waktu itu hasil blog sangat membantu. Honor guru honorer kecil sekali, jadi penghasilan dari internet benar-benar menolong kebutuhan rumah tangga,” tuturnya dengan nada penuh syukur.
Setelah menyelesaikan pendidikan di Universitas Terbuka pada tahun 2013, semangatnya dalam dunia digital kembali tumbuh. Ia semakin aktif mengembangkan blog pribadi sambil tetap menjalankan profesinya sebagai pendidik.
Perjalanan sebagai aparatur sipil negara dimulai ketika dirinya ditempatkan di SDN 13 Anggrek, Desa Datahu, Kecamatan Anggrek, Kabupaten Gorontalo Utara. Di tempat itu, tantangan baru mulai dirasakan karena akses jaringan internet masih sangat terbatas.
Kondisi tersebut membuat aktivitasnya di bidang digital sempat terhenti. Selain terkendala jaringan yang sulit dijangkau, suasana hati dan semangatnya dalam mengembangkan media digital juga beberapa kali menurun akibat keterbatasan fasilitas yang ada.
Di rumah pun, Ishak mengaku hampir tidak memiliki banyak kesempatan untuk belajar atau mengotak-atik blog karena harus menyelesaikan berbagai pekerjaan dan tanggung jawab lainnya sebagai kepala keluarga.
Sering kali dirinya harus mencari lokasi tertentu hanya untuk mendapatkan sinyal internet demi memperbarui tulisan ataupun mengunggah informasi sederhana ke blog yang dikelolanya secara mandiri.
“Waktu bertugas di SDN 13 Anggrek terkendala jaringan internet minim. Kadang saya harus mencari tempat tertentu supaya bisa online,” ujar Ishak sambil tersenyum mengenang masa perjuangan tersebut.
Perjalanan hidupnya mulai berubah ketika berpindah tugas ke SDN 4 Anggrek. Di sekolah itu, Ishak bertemu banyak guru kreatif dan lingkungan yang lebih mendukung pengembangan bakat jurnalistik maupun media digital.
Momentum penting terjadi pada 22 September 2024 ketika dirinya diajak bergabung oleh Ichal Rumokoy, owner media Bitungnews.id, yang saat itu sedang melatih Marching Band SDN 4 Anggrek.
Saat itu Ishak terlihat aktif mendokumentasikan kegiatan para siswa marching band menggunakan kamera ponselnya. Ketekunan dan konsistensinya menarik perhatian Ichal Rumokoy hingga akhirnya ditawari bergabung dalam dunia jurnalistik profesional.
Ajakan tersebut menjadi titik penting dalam perjalanan hidupnya. Dari sekadar hobi menulis dan mendokumentasikan kegiatan sekolah, Ishak mulai belajar memahami ritme kerja media, peliputan, hingga penyusunan berita digital.
Ketegangan sempat dirasakan ketika dirinya harus membagi waktu antara tugas sebagai guru, kepala keluarga, dan aktivitas jurnalistik. Tidak jarang ia menulis berita hingga larut malam setelah menyelesaikan pekerjaan sekolah.
Meski demikian, semangatnya tidak pernah surut. Perlahan, berbagai media digital mulai lahir dari tangan dinginnya, seperti Gorutnews.com, Gorontalonews.my.id, sdn16anggrek.web.id, hingga tiguru.my.id yang dikelola secara mandiri.
Beberapa website bahkan sempat mengalami kendala hingga tidak lagi aktif, termasuk Goproinfo.com yang dinyatakan kedaluwarsa pada tahun 2025. Namun kegagalan tersebut justru menjadi pelajaran berharga bagi dirinya.
“Kalau website mati atau domain expired, saya tidak kecewa lama. Saya jadikan itu pengalaman supaya bisa belajar membuat media yang lebih baik lagi,” katanya penuh optimisme.
Kini, melalui kehadiran lensaguru.com, Ishak ingin menghadirkan ruang kreatif bagi para pendidik untuk belajar jurnalistik digital, berbagi informasi pendidikan, sekaligus mendokumentasikan aktivitas sekolah secara lebih luas.
Peluncuran website tersebut disambut gembira rekan-rekan guru dan sahabatnya. Mereka menilai kehadiran platform baru itu menjadi langkah positif bagi perkembangan literasi digital pendidikan di Gorontalo Utara.
Dari seorang anak desa yang hanya mampu bermimpi memiliki kamera, kini Ishak berhasil membangun media digital pendidikan melalui perjuangan panjang, air mata, dan ketekunan yang tidak pernah berhenti sepanjang perjalanan hidupnya.
